Entri Populer

Senin, 21 November 2011

Plankton dapat memperlambat proses pemanasan bumi

Para ilmuwan dari Amerika Serikat menemukan plankton secara tidak langsung dapat membuat awan yang dapat menahan sebagian sinar matahari yang merugikan. Sehingga plankton bisa membantu memperlambat proses pemanasan bumi.
Dierdre Toole dari Institusi Oceanografi Woods Hole (WHOI) dan David Siegel dari Universitas California, Santa Barbara (UCSB) adalah dua peneliti itu.
Penelitian yang dibiayai oleh NASA tersebut mengungkapkan ketika matahari menyinari lautan, lapisan atas laut (sekitar 25 meter dari permukaan laut) memanas, dan menyebabkan perbedaan suhu yang cukup tinggi dengan lapisan laut di bawahnya. Lapisan atas dan bawah tersebut terpisah dan tidak saling tercampur.
Plankton hidup di lapisan atas, tapi nutrisi yang diperlukan oleh plankton terdapat lebih banyak di lapisan bawah laut. Karenanya, plankton mengalami malnutrisi.
Akibat kondisi malnutrisi ditambah dengan suhu air yang panas, plankton mengalami stress sehingga lebih rentan terhadap sinar ultraviolet yang dapat merusaknya.
Karena rentan terhadap sinar ultraviolet, plankton mencoba melindungi diri dengan menghasilkan zat dimethylsulfoniopropionate (DMSP) yang berfungsi untuk menguatkan dinding sel mereka.
Zat ini jika terurai ke air akan menjadi zat dimethylsulfide (DMS). DMS kemudian terlepas dengan sendirinya dari permukaan laut ke udara.
Di atmosfer, DMS bereaksi dengan oksigen sehingga membentuk sejenis komponen sulfur. Komponen sulfur DMS itu kemudian saling melekat dan membentuk partikel kecil seperti debu. Partikel-partikel kecil tersebut kemudian memudahkan uap air dari laut untuk berkondensasi dan membentuk awan.
Jadi, secara tidak langsung, plankton membantu menciptakan awan. Awan yang terbentuk menyebabkan semakin sedikit sinar ultraviolet yang mencapai permukaan laut, sehingga plankton pun terbebas dari gangguan sinar ultraviolet.
Proses ini sebenarnya telah beberapa tahun dipelajari di laboratorium oleh para ilmuwan, namun proses alamiahnya baru kali ini dapat dipelajari.
Awan yang disebabkan oleh plankton ini, dipercaya dapat memperlambat proses pemanasan bumi, serta memiliki efek besar tehadap iklim bumi. Namun, untuk membuktikan hal tersebut, masih harus dilakukan penelitian lanjutan yang seksama.
Penelitian yang dilakukan di Laut Sargasso, lepas pantai Bermuda ini juga menemukan secara mengejutkan bahwa partikel DMS ini dapat terurai dengan sendirinya di udara setelah tiga sampai lima hari saja. Padahal, karbondioksida di udara, dapat bertahan hingga berpuluh-puluh tahun.
Karena penguraian alamiah DMS sangat cepat, DMS tidak akan menimbulkan efek rumah kaca, tidak seperti karbondioksida.
dari : beritabumi.or.id

Oarfish

Oarfish : Sang Naga Samudera

Oarfish
Oarfish
Di masa lampau ketika teknologi belum semaju sekarang, orang-orang berkelana tanpa mobil, sepeda motor ataupun pesawat terbang. Para pengelana menjelajahi dunia ini dengan kapal laut tradisional. Saat itu bermunculan legenda monster-monster laut yang luar biasa. Apakah monster-monster ini benar-benar ada ? ataukah hanya khayalan para pelaut yang sedang mabuk ? Walaupun sains belum bisa menentukan secara pasti identitas monster-monster tersebut, tapi paling tidak ada beberapa tersangka utama yang bisa dipertimbangkan. Ini salah satunya, Regalecus Glesne atau Oarfish.
Melihat foto di atas, tentu Anda tidak akan heran melihat makhluk ini sering disangka sebagai monster atau naga laut. Lihat saja ukuran tubuhnya yang begitu mengerikan.
Beberapa waktu lalu di Pantai Remis Malaysia juga digegerkan dengan temuan serupa seperti gambar diatas. Nelayan mengklaim ikan itu adalah ikan naga atau sejenis jadi-jadian. Para nelayan mengatakan bahwa mereka tidak pernah menemukan ikan berbentuk seperti ini sebelumnya. Warnanya putih, bersungut, dan tubuhnya panjang.
Tapi pendapat para nelayan melenceng. Ikan itu bukan makhluk jadi-jadian. Ikan aneh ini ternyata adalah jenis oarfish (Regalecus russellii). Ikan jenis ini memang jarang ditemukan atau sudah sangat langka. Selain itu ikan ini termasuk ikan yang bertubuh ramping dan berukuran panjang.

Oarfish Terdampar di Tepi Pantai
Ikan ini termasuk ke dalam kategori langka. Meskipun dapat ditemukan di semua lautan beriklim tropis namun jarang terlihat. Saking langkanya sehingga ikan ini tidak pernah tertangkap kamera dalam keadaan hidup hingga tahun 2001.
Oarfish termasuk ke dalam family Regalecidae yang memiliki empat spesies. Salah satu spesies, Regalecus Glesne, yang sedang kita bicarakan ini, pernah masuk ke dalam Guinnes Book of World Record karena pernah ditemukan seekor yang hidup dengan panjang tubuh hingga 11 meter (36 kaki).
Makanan si “ikan naga” adalah plankton dan makhluk-makhluk laut kecil lainnya. Ia mampu hidup hingga kedalaman 1.000 meter. Anehnya, ikan ini tidak memiliki sisik. Tubuhnya hanya diselimuti oleh semacam membran yang disebut guanine.
Ikan ini memiliki sirip tunggal berwarna merah dan termasuk ikan yang penyendiri. Namun ketika ikan ini sedang sakit atau sekarat, sepertinya sang penyendiri ini tidak ingin mati dalam kesepian. Jadi ia naik ke atas permukaan laut dan bertahan disitu hingga mati. Mungkin untuk menarik perhatian para pelaut, atau hanya ingin memandang matahari untuk terakhir kalinya.
Para pelaut masa lampau mungkin telah melihat ikan ini di permukaan dan mempersepsikannya sebagai monster laut. Misalnya, pada tahun 1860, ketika seekor Oarfish sepanjang 5 meter terdampar di pantai Bermuda, para penduduk segera mengkaitkannya dengan monster laut yang legendaris.
Beberapa ilmuwan percaya bahwa kemungkinan besar terdapat Oarfish yang ukurannya melebihi 11 meter. Namun sampai sekarang belum ada yang membuktikanya.
Walaupun sains sudah bisa membuka tabir ikan langka ini, tapi saya rasa, setiap orang yang baru pertama kali melihat ikan ini akan takjub, sama seperti Anda yang melihatnya untuk pertama kali lewat rubrik ini. Benar bukan..??(Sumber:Harian Global)

Bencana tsunami besar melanda pantai timur Jepang pada 11 Maret 2011 silam. Bencana itu terjadi setelah sebuah gempa dahsyat dengan kekuatan 8,9 Skala Richter.

Sistem keamanan darurat Jepang, saat terjadi tsunami, tampak bekerja dengan bagus memberi peringatan kepada rakyatnya. Namun,  tampaknya sistem peringatan dini itu masih kalah cepat dengan peringatan yang disampaikan oleh kelompok ikan oar (oarfish). anda-tanda bencana itu, sepertinya telah dirasakan seminggu sebelum kejadian oleh sekelompok oarfish. Kawanan ikan itu ditemukan terdampar di pantai Jepang, seminggu sebelum tsunami menyapu kawasan pantai timur Jepang.

Kejadian itu, dituliskan oleh laman dailyonigiri.com. Laman itu menuliskan, seminggu sebelum terjadinya gempa besar dan tsunami itu, ditemukan banyak oarfish yang tersapu di daratan pantai Jepang dan sebagian tersangkut di jaring nelayan.

Sebelumnya, laman The Telegraph juga pernah memuat artikel tentang oarfish yang muncul ke permukaan sebelum terjadi gempa besar di Cili dan Haiti pada 2010 silam. Yang menarik, Oarfish ini diduga bisa mendeteksi terjadinya gempa besar. Mengapa demikian?

Oarfish biasanya tinggal di laut dengan kedalaman 1 km (lebih dari 3.000 kaki). Jenis ikan ini sangat jarang ditemukan hidup di laut dengan kedalaman kurang dari 200 meter dari permukaan laut. Ikan ini bisa tumbuh dengan panjang lebih kurang 17 meter (56 kaki).

Menurut kebiasaan kuno Jepang, ikan ini ber Beberapa ilmuan percaya ikan yang hidup di laut dalam sangat sensitif  terhadap gerakan bumi dan biasanya selalu mendahului terjadinya gempa bumi. Meski demikian, kebanyakan ahli gempa tidak melihat hubungan ilmiah antara fenomena oarfish dengan gempa bumi.

Tapi, apakah mungkin ikan-ikan itu mengetahui apa yang terjadi di bawah permukaan? Pada zaman kuno, ketika belum memiliki peralatan yang canggih, orang-orang Jepang mempercayai beberapa ikan, terutama lele, sebagai pertanda akan terjadinya bencana gempa.enang ke permukaan dan pantai sebagai pertanda datangnya gempa bumi. Selain itu, juga terdapat teori ilmiah yang mengatakan binatang lebih sensitif bergerak ke permukaan dari pada manusia.

Mengapa memilih Perikanan ?

Ketika saya dinyatakan LULUS SMA, saya bersikeras, bagaimana carannya untuk bisa melanjutkan study di Perguruan Tinggi Negeri. Saya sangat menyukai pelajaran khususnya di bidang Biologi. Saya mulai mencoba berbagai tes untuk masuk PTN, namun tidak keterima. Lalu ketika di SNMPTN saya memilih prodi PSP, adalah pilihan pertama. Memang saya belum mengenal apa itu PSP. Tapi yang jelas saya tertarik dengan nama prodi tersebut yaitu Pemanfaatan SD Perikanan. Saya sangat senang dengan kata "pemanfaatan" tersebut, karena yang saya fikirkan , bila ada pemanfaatan pasti ada pelestarian, karena saya sangat suka dengan bidang pelajaran yang berisi tentang kehidupan (Biology). Dan alhamdulillah saya keterima, dan diterima di UNDIP, salah satu PTN yang sya favoritkan, karena terletak di Semarang, dimana Semarang merupakan kampung saya, yang mana setiap lebaran saya mudik ke Semarang. Dan benar saja, saya cepat sekali tertarik di bidang PSP sejak mempelajari di setiap hari-hari kuliah. Alhamdulillah, sampai saat ini, saya enggan beranjak pindah ke prodi lain, karena saya sudah sangat nyaman di PSP. Sebetulnya di sisi lain banyak yang menyindir saya, bahkan orang tua saya pun seperti kurang setuju dengan apa yang saya ambil ini. Namun karena itu, saya menjadi memiliki motivasi yang lebih, saya akan bersikeras menunjukkan pada semua orang, kalau PSP merupakan prodi yang tidak bisa diremehkan, namun merupakan bidang studi yang dapat di unggulkan, karena saya pun mempunyai prediksi untuk kehidupan ini" di 20 tahun mendatang, pendapatan negara terbesar berasal dari sumberdaya perikanan dan kelautan, sehingga stabilitas perekonomian nasional bisa lebih baik, dan sejahtera masyarakat Idonesia". Dan saya berjanji saya akan membuat orang tua saya tersenyum sangat indah ketika melihat anaknya naik tahta lebih tinggi dari orang tuanya lewat bidang studi PSP...amin....

Dunia Perikanan

Perikanan merupakan hal yang mempelajari, bukan saja hanya ikan yang dipelajari, namun semua makhluk hidup yang berhubungan/berinteraksi dengan air untuk memenuhi siklus hidupnya. Jadi, di dalam perikanan, bukan hanya biota yang dipelajari namun sendimen yang mendukung daur hidup juga dipelajari. Perikanan mencakup semua perairan, baik tawar, payau, maupun asin (laut). Dunia perikanan merupakan sumberdaya alam yang sangat bagus, karena bisa diperbaharui, dan tak akan pernah mati. Maksud dari kata "tak akan pernah mati" yaitu, ketika ada 1 species punah, maka muncul kembali spesies baru. Ini semua terjadi untuk keseimbangan alam, agar semua daur hidup yang ada di bumi berjalan dengan baik.